Dayak adalah salah satu suku besar di indonesia yang berada di pulau kalimantan,sebagian suku dayak tersebut berada di sarawak malaysia dan brunai darussalam.Suku dayak merupakan penduduk asli pulau kalimantan dan di indonesia mendiami daerah kalimantan barat,Kalimantan timur,kalimantan Tengah,Kalimantan selatan dan kalimantan utara.masyarakat dayak umumnya beragama katholik,kristen,dan sebagian kecil penganut islam dan aliran kepercayaan kaharingan.suku dayak sebagian besar tinggal dihulu sungai di pedalaman kalimantan dan umumnya bekerja sebagai petani dan berkebun.

Suku dayak memiliki 6 rumpun suku besar dan 405 sub suku yang mendiami seluruh pulau kalimantan, 6 rumpun suku tersebut adalah dayak kayaan,dayak danum,dayak iban, dayak klemantan,dayak punan.dipedalaman kalimantan masih banyak ditemukan rumah betang yang merupakan rumah adat suku dayak yang berfungsi sebagai tempat tinggal utama.rumah betang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari budaya dayak,dan selain sebagai tempat tinggal rumah betang juga biasa digunakan sebagai tempat pelaksanaan acara adat maupun acara syukuran seperti gawai dayak.

Gawai dayak biasa dilaksanakan suku dayak yang berada di kalimantan barat dan makna dari acara tersebut adalah sebuah ungkapan rasa syukur kepada jubata (tuhan) atas hasil panen padi yang selesai dilaksanakan dan biasanya diisi dengan acara nyangahathn (lantunan doa/mantra) dan kemudian dilaksanakan dengan saling mengunjungi rumah kerabat,dan pada acara tersebut akan tersedia hidangan makanan berupa salikat poe (lemang  pulut yang dimasak menggunakan bambu),tumpi (cucur), bontokng ( nasi yang dibungkus oleh daun),dan berbagai makanan khas lainnya.

Gawai dayak (syukuran pasca panen padi) tersebut pada beberapa wilayah di kalimantan barat,penyebutannya berbeda-beda tetapi maknanya sama,misalnya untuk warga dayak yang tinggal di pehuluan sungai kapuas disebut dengan gawai, wilayah bengkayang disebut dengan maka’dio, untuk orang dayak kanayatn disebut dengan naik dango yang tujuannya sama yaitu mengadakan pesta syukuran kepada jubata (tuhan) atas panen padi yang melimpah.dan biasanya gawai tersebut dilaksanakan dengan waktu yang berbeda-beda ditiap kampung/wilayah dan kemudian akan mengundang warga dari wilayah lainnya untuk datang kedaerah yang sedang melaksanakan acara gawai tersebut.

Gawai dayak atau naik dango didasari cerita rakyat tentang asal mula padi yaitu cerita nek baruang kulup.dalam cerita tersebut bahwa setangkai padi milik jubata dicuri oleh burung pipit digunung bawakng dan kemudian padi tersebut jatuh ketangan nek jaek yang saat itu sedang mengayau (mencari kepala manusia),tetapi saat pulang nek jaek tersebut tidak mendapat hasil dan hanya membawa setangkai padi, dan kemudian dia berencana untuk menanam benih tersebut,tetapi warga dikampungnya tidak setuju dan pada akhirnya dia diusir dari kampung tersebut.kemudian nek jaek pergi mengembara kehulu sungai dan dalam pengembaraan tersebut ia bertemu dengan jubata dan kemudian menikah dan memiliki anak yang bernama nek baruang kulup.baruang kulup suka datang ke dunia untuk bermain gasing bersama dengan manusia dan hingga kemudian baruang kulup mambawa padi kepada talino (manusia), kemudian ia diusir karena telah memberi padi tersebut kepada talino.sampai pada akhirnya baruang kulup menikah dengan manusia.saat memperoleh padi tersebut terjadi pengusiran kepada keluarga manusia dan jubata,sehingga sejak itu manusia tidak bisa lagi melihat jubata kecuali jubata memperlihatkan dirinya tetapi jubata memperlihatkan dirinya dalam wujud yang tidak disadari oleh manusia,dan jubata selalu memperhatikan manusia ,jubata tersebut mengajari orang dayak bertani,mengobati penyakit,memberikan kekuatan kepada orang tertentu,mengajarkan cara menghormati arwah leluhur,dan banyak hal lainnya yang diajarkan jubata kepada orang tertentu.padi yang diberikan jubata tersebut memberikan penghidupan kepada manusia dan itulah sebabnya manusia membuat upacara naik dango (gawai) sebagai wujud rasa syukur kepada jubata.

Gawai dayak sendiri dijadikan simbol bahwa setiap orang dayak berasal dari leluhur yang sama dan secara bersama-sama melestarikan budaya leluhur dan tradisi pada masa lalu dan menumbuhkan rasa solidaritas sesama orang dayak.

Pada tahun 1986 dibentuk SEKBERKESDA (Sekretariat bersama kesenian dayak) yang bertugas untuk mengorganisir pelaksanaan pagelaran seni budaya dayak di kalimantan barat dan dikemudian hari berubah menjadi gawai dayak yang memiliki simbol bahwa setiap orang dayak berasal dari leluhur dan budaya yang sama dan bersama-sama melestarikan budaya dan tradisi masa lalu.  Gawai dayak pertama sekali dilaksanakan pada tanggal 30 Juni 1986 yang dipelopori oleh kelompok urban dayak yang memiliki tujuan untuk membangkitkan rasa kebersamaan sesama orang dayak,dan kemudian acara tersebut dikembangkan sebagai momen pelestarian budaya dengan menampilkan kesenian dan tradisi dari tiap-tiap daerah, dan acara gawai dayak tersebut dilaksanakan setiap tanggal 20 mei setiap tahun.dan gawai dayak tersebut mengalami perubahan nama pada tahun 1992 menjadi pekan gawai dayak yang maknanya bahwa gawai dayak tersebut dilaksanakan selama sepekan setiap tahun.

Dalam upacara gawai dayak (naik dango) ada beberapa kegiatan utama yaitu :

  1. Batutuk adalah sebuah kegiatan menumbuk padi dengan menggunakan lesung untuk mengambil beras,selain itu juga menumbuk tepung atau ketan untuk membuat hidangan makanan.
  2. Matik adalah doa yang dilantunkan kepada jubata (tuhan) untuk menyampaikan maksud hajatan tersebut agar tuhan memberi berkat atas pelaksanaan gawai tersebut dan pelaksanaan acara matik tersebut disajikan makanan berupa tumpi sunguh (cucur putih ).solekng’poe (beras pulut/lemang yang telah dimasak menggunakan bambu), sirih masak (sirih yang siap untuk dimakan yang didalamnya terdapat kapur,gambir),dan gulungan rokok daun nipah.
  3. Nyangahtn adalah doa yang diucapkan oleh tetua adat untuk mengambil semangat (jiwa) padi yang belum kembali, memanjatkan syukur kepada pencipta atas hasil padi yang telah dipanen, dan memohon agar pada masa berikutnya diberikan kesejahteraan,kemudian memohon agar segala sesuatu (kekotoran) dilunturkan,dan setelah itu dilaksanakan ngadap buis yaitu penerimaan sesajian (buis) oleh awa pama dan jubata dengan tujuan memberikan ungkapan syukur dan memperoleh penyucian terhadap hal-hal yang kurang berkenan dan kemudian memanggil jiwa yang tersesat agar tenang dan tenteram.

kemudian setelah beberapa acara tersebut kemudian pada malam harinya diadakan acara makan bersama dan umumnya tersedia makanan khas pulut (ketan yang dimasak menggunakan bambu), tumpi (cucur), dan makanan lainnya.

Gwai dayak sendiri telah dilaksanakan selama puluhan tahun setiap tanggal 20 mei setiap tahunnya yang didukung oleh masyarakat budaya yang bertujuan melestarikan budaya tradisional dan mempererat hubungan antar suku dayak dimanapun berada.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here