A. Peran guru dalam proses pembelajaran

Menurut Depdiknas (2001) ada tujuh peran guru dalam pembelajaran yaitu sebagai berikut:

1) Peran Guru sebagai guru

Guru yaitu orang yang dengan sengaja memengaruhi orang lain untuk mencapai kedewasaannya. Guru dalam pengertian secara formal yaitu guru disekolah, hingga saat ini memiliki hambatan yang sangat menghambat kemajuan kualitas pendidik yaitu;

(a) Rendahnya kesadaran dalam melaksanakan tugas

(b) Rendahnya disiplin secara menyeluruh (disiplin waktu dan target)

(c) rendahnya kualitas mengerjakan tugas dalam proses belajar mengajar.

2. Peran guru sebagai pengajar.

Guru sebagai pengajar paling kecil harus menguasai dan mempraktekkan secara efektif kemampuan dalam menjalankan tugas pokoknya yaitu:

(a) merumuskan tujuan instruksional khusus.

(b) menentukan dan mengelola materi pembelajaran.

(c) menentukan metode mengajar.

(d) pendaftaran berkala.

(e) analisis dan evaluasi.

(f) mengadakan perbaikan dan pengayangan.

3. Peran guru sebagai pendidik

Guru sebagai pendidik memasukkan mengantarkan siswa menjadi manusia dewasa yang cerdas dan berbudi luhur. Oleh karena itu sebagai pendidik guru harus memiliki kualitas kepribadian yang matang seperti berikut:

(a) meningkatkan kebiasaan-kebiasaan siswa yang baik.

(b) memiliki ketrampilan semangat minat siswa kreatif, inovatif, proaktif dengan cara terus memepertahankan keilmuan yang dimiliki.

4. Peran guru sebagai pimpinan kelas.

Guru sebagai pemimpin, guru bertanggung jawab atas proses belajar mengajar di kelas dan disekolah. Apa yang terjadi pada siswa selama proses belajar mengajar harus dijelaskan dan langsung menjadi tanggung jawab guru. Oleh karena itu sangat tidak dibenarkan bagi siswa berkeliaran diluar kelas atau diluar sekolah ketika berlangsung kegiatan belajar mengajar.

5. Peran guru sebagai pemimpin atau kepala sekolah.

Pimpinan guru profesional sebagai kepala sekolah sangat menentukan baik dan buruknya sekolah. Oleh karena itu seorang kepala sekolah paling sedikit harus menguasai empat kemampuan dasar kepala sekolah, yaitu ;

(a) menyusun program kegiatan sekolah.

(b) menempatkan posedur mekanisme kerja.

(c) melaksanakan monitoring dan evaluasi, survei, dan membuat laporan kegiatan sekolah.

(d)meningkatkan dan memantapkan disiplin guru dan siswa.

Selain itu, guru juga sebagai kepala sekolah harus mampu melaksanakan 7 butir kegiatan kepemimpinan pendidikan sekolah yaitu;

(1) mengadakan prediksi

(2) melakukan inovasi

(3) menciptakan strategi

(4) menyunsun perencanaan

(5) menemukan sumber-sumber pendidikan

(6) menyediakan fasilitas pendidikan

(7) melakukan pengendalian atau kontrol.

6. Peran Guru Sebagai Pengawas Sekolah

Guru sebagai pengawas sekolah dalam pendidikan memiliki fungsi control dan pembinaan terhadap keberhasilan pendidikan. Peran pengawas yang ideal harus mempunyai minimal 4 kemampuan pengawas yaitu :

a) membuat rencana kerja yang rasional

b) memonitor kerja guru dan kepala sekolah serta hasilnya

c) mengorganisir pertemuan-pertemuan kepala sekolah

d) bersama dengan kepala sekolah mengorganisir pertemuan dengan guru

Idealnya pengawas sekolah diangkat dari kepala sekolah yang prestasi nya tinggi, dan tidak hanya didasarka  pada faktor usia dan masa kerja seperti yang banyak terjadi selama ini.

7. Peran Guru sebagai pengembangan Model Pembelajaran.

Agar pembelajaran dapat terarah pada sasaran yang ditetapkan diperlukan kemampuan guru sebagai pengembang model pembelajaran.

B. Aspek-aspek dalam manajemen sekolah.

Depdiknas (2001: 21) mengusulkan sembilan aspek dalan manajemen sekolah yang perlu dilakukan oleh kepala sekolah yaitu:

1. Membuat perencanaan dan mengevaluasi program sekolah

Sekolah diberi kewenangan untuk melakukan perencanaan sesuai dengan kebutuhannya. Oleh karena itu, sekolah harus melakukan analisis krbutuhan mutu dan berdasarkan hasol analisis kebutuhan mutu inilah kemudian sekolah membuat rencana peningkatan mutu.

Sekolah diberi wewenang untuk melakukan evaluasi, khususnya evakuasi yang dilakukan secara internal. Evaluasi internal dilakukan oleh warga sekolah untuj membantu proses pelaksanaan dan untuk mengevaluasi hasil program yang telah dilaksanakan. Evaluasi semacam ini sering disebut evaluasi diri. Evaluasi ini harus jujur dan transparan agar benar-benar dapat mengungkapkan infotmasi yang sebenarnya.

2. Melakukan pengelolaan kurikulum

Kurikulum yang dibuat oleh pemerintah pusat adalah kurikulum standar yang berlaku secara nasional, padahal kondisi sekolah pada umumnya sangat beragam. Oleh karena itu, dalam implementasinya, sekolah dapat mengembangkan (memperdalam, memperkaya dan memodifikasi) namun tidak boleh mengurangi isi kurikulum yang berlaky secara nasional. Selain itu, sekolah diberi kebebasan untuk mengembangkan kurikukum muatan lokal.

Depdiknas (1992:32) menegaskan bahwa:

a.  Sekolah dapat menambah kurikulum yang telah ditetapkan aecara sasional. Dasar penambahan ini diatur dalam pasal 38 Undang-undang nomor 2 tahun 1989.

b. Kurikulum dapat ditambahkan oleh sekolah dengan mata pelajaran yang sesuai dengan kondisi lingkungan atau ciri khas satuan pendidikan yang bersangkutan. Semua tambahan tersebut tidak mengurangi kurikulum yang berlaku secara nasional dan tidak boleh menyimpang dari jiwa dan tujuan pendidikan nasional.

3. Melakukan pengelolaan proses belajar mengajar (PMB)

PMB merupakan kegiatan utama disekolah. Sekolah diberi kebebasan untuk memilih strategi, metode, dan teknik pembelajaran sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, siswa dan guru serta kondisi nyata sumber daya  yang tersedia di sekolah. Secara umum strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang terpusat pada siswa (student centered) lebih mampu memberdayakan siswa.

4. Melajukan pengelolaan ketenagaan.

Pengelolaan ketenagaan mulai dari analisi kebutuhan, perencanaan, rekrutment, pengenbanan, hadiah dan sanksi, hubungan kerja sama sampai evaluasi kinerja tenaga kerja sekolah (Guru, TU, Laboran, dsb), dapat dilakukan oleh sekokah kecuali yang menyangkut pengupahan atau imbalan jasa dan rekrutment pegawai negeri yang sampai saat ini masi ditangani okeh birokrasi di atasnya.

5. Melakukan pengelolaan peralatan dan perlengkapan.

Pengelolaan fasilitas sekolah seharusnya dilakukan sekolah mulai dari pengadaan, pemeliharaan, perbaikan, hingga sampai pengembangan. Hal ini di dasari oleh kenyataan bahwa sekolah yang paling mengetahui kebutuhan fasilitas, baik kecukupan, kesesuaian, maupun pemutakhirannya, terutama fasilitas yang sangan erat kaitannya dengan PBM.

6. Melakukan pengelolaan keuangan.

Pengelolaan keluangan terutama pengalokasian atau penggunaan uang sudah sepantasnya dilakukan oleh sekolah.  Hal ini di dasari oleh kenyataan bahwa sekolah paling memahami kebutuhannya, sehingga disentralisasi pengalokasian atau penggunaan uang sekolah sudah seharusnya dilimpahkan kepada sekolah. Sekolah juga harus diberi kebebasan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang mendatangkan penghasilan, sehingga sumber uang tidak semata-mata tergantung pada pemerintah.

7. Melakukan pelayanan siswa

Pelayanan siswa dimulai dari PSB, pengembangan atau pembinaan , bimbingan, penempatan untuk melanjutkan sekolah atau memasuki dunia kerja hingga sampai pada mengurus alumni, sebenarnya dari dahulu sudah disentrakisasikan. Karena itu yang diperlukan adalah peningkatan intensitasnya.

8. Melakukan hubungan sekolah dan masyarakat.

Hubungan sekolah dengan masyarakat adalah untuk meningkatkan kertibatan, kepedukian dan dukungan dari masyarakat, terutama dukungan moral dan financial. Dalam arti sebenarnya, hubungan sekolah dan masyarakat dari dahulu sudah didedentralisasikan. Oleh karena itu, sekali lagi yang dibutuhkan adalah peningkatan intensitas dan ekstensitas hubungan sekolah dengan masyarakat.

9. Melakukan pengelolaan iklim sekolah.

Iklim sekolah yang kondusif akademik merupakan prasyarat bagi terselenggaranya PBM yang efektif. Lingkungan sekolah yang aman, dan tertib, optimisme dan harapan yang tinggi dari warga sekolah, kesehatan sekolah dan kegiatan-kegiatan yang terpusat pada siswa adalah contoh-contoh iklim sosial yang dapat menumbuhkan semangat belajar siswa. iklim sekolah sudah merupakan kewenangan sekolah, yang lebih dari sekedar yang intensif dan ekstensif.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here